Sobat Sobat SenjuJasrizal.blogspot.com yang baik hati,,, TERIMA KASIH TELAH MENGUNJUNGI BLOG INI... mohon maaf atas segala kekurangan, mudah-mudahan bermanfaat dan dapat sobat2ku mengambil hikmah didalamnya....^_^

Kamis, 17 Mei 2012


Asal Wanita Dari Tulang Rusuk Pria

Benar Fakta atau Mitos


 “Sesungguhnya perempuan diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok, jika kalian mencoba meluruskannya ia akan patah. Tetapi, jika kalian membiarkannya maka kalian akan menikmatinya dengan tetap dalam keadaan bengkok.”(Diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, dan Tirmidzi dari sahabat Abu Hurairah).
Sepintas, saya langsung yakin atas kebenaran hadits ini. Barangkali juga Anda. hadis itu dinilai dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Tapi, coba cermati lebih dalam; betulkah asal-usul penciptaan perempuan itu dari tulang rusuk laki-laki? Benarkah Islam membeda-bedakan asal-usul kejadian manusia, sehingga perempuan dianggap sebagai mahkluk nomor dua (sekadar pendamping)? Lalu, bagaimana sebenarnya Alquran memandang asal-usul kejadian manusia?
Alquran sama sekali tidak pernah menyebutkan, soal tulang rusuk itu. Dengan gamlang, ia menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan itu sama-sama dicipta dari sumber yang satu (nafsu wahidah).
Coba simak, firman Allah berikut ini;
Artinya; “Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kalian dari “diri” yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan pasangannya, dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah pada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan peliharalah hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu (Q.s an-Nisa’;1).
Kata nafs wahidah dalam ayat ini secara umum bermakna satu diri. Sebagian ulama ada yang memaknainya sebagai diri adam, oleh karena itu, laki-laki. Sehingga, banyak orang yang mengatakan bahwa Adam itu sebagai manusia pertama dicipta tanpa ayah dan ibu. Dibuat di surga sana. Lalu, diciptakan istrinya dari tulang rusuknya untuk menemaninya. Padahal, kalau kita telaah, kata nafs itu sendiri bersifat umum, sama sekali tidak menunjuk arti laki-laki maupun perempuan.
Menurut Amina Wadud, pakar tafsir modern, tidak terdapat kejelasan bahwa nafs—jika ditilik dari akar katanya sebenarnya berbentuk muanas(feminin)—adalah lelaki (Adam) dan zawj-nya—jika ditilik dari akar katanya sebenarnya berbentuk mudzakar (maskulin)—adalah perempuan Hawa. Bahkan, tandas Amina Wadud, Allah tidak pernah berencana untuk memulai penciptaan manusia dengan seorang laki-laki. Untuk itu, Alquran tidak pernah menyebutkan bahwa Allah memulai penciptaan manusia itu dari "nafs manusia". Alquran hanya menyebutkan bahwa manusia itu dicipta dari satu diri, nafs wahidah.
Lalu, siapakah nafs wahidah itu?
Dalam Alquran, nafs dan jamaknya, anfus dan nufus, diartikan sebagai "jiwa" (soul) "pribadi"(person), diri,"(self),"hidup"(life), "hati" (heart) atau "pikiran"(mind), disamping dipakai untuk beberapa arti lainnya. Sementara kata nafsu dalam Q.s An-nisa'; 1, Al-an'am;98, dan Al-a'raf;189 itu bermakna jiwa (soul). Kata nafs dalam filsafat dan tasawuf Islam telah berkembang menjadi konsep bahwa ia adalah suatu subtansi yang terpisah dari jasmani. Jiwa, dirtikan "diri" atau batin manusia. Dengan perkataan lain, jiwa adalah roh yang telah mempribadi, setelah masuk ke dalam tubuh (yang akan menjadi) manusia.
Jiwa itulah yang kemudian menjadi benih kemanusian yang ditempatkan Tuhan dalam raga manusia Adam. Yang berupa adam lelaki dan adam perempuan. Adam lelaki dikenal dalam kitab-kitab suci sebagai Adam. Sedangkan dalam Alquran Adam perempuan hanya disebut Nyonya Adam, atau istrinya. Dalam Bibel disebut "Eva" atau Hawa. Jelas dalam Alquran tak ada pernyataan "istrinya yang bernama Hawa itu berasal dari diri Adam." Juga tak ada ayat yang menyebut bahwa istri Adam berasal dari tulang rusuk Adam.
Penafsiran seperti itu hanyalah sebuah mitos yang ada pada kitab sebelum Alquran. Cerita-cerita itu ternyata banyak dipengaruhi oleh kisah-kisah israilliyat, riwayat-riwayat yang bersumber dari kitab Taurat (kitab suci agama Yahudi), dan Injil dalam perjanjian lama (kejadian 11; 21) Bahkan, Fatima Mernissi, seorang ilmuan perempuan terkemuka pun, meragukan perawi hadis itu, Abu Hurairah, meski kualitas hadis itu dinyatakan hadis sahih. Pasalnya, Abu Hurairah mempunyai latar belakang yang anti pati terhadap perempuan.
Jelaslah, hadis itu bertentangan dengan pandangan Quran. Oleh karena itu, untuk memahami hadis itu, sebagian ulama ada yang mengartikan secara majazi atau metafor.
Artinya, hendaklah laki-laki atau suami bertindak bijakasana, sebaik mungkin, bersikap ma’ruf, dan penuh kesabaran terhadap perempuan. Karena, mereka menganggap bahwa ada karakter, dan kecenderungan mereka yang tidak sama dengan lelaki. Dan jika itu tidak disadari akan dapat menghantar kaum lelaki untuk bersikap tidak wajar. Maka, hadis diatas, tidak tepat jika di artikan bahwa Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam, yang kemudian dijadikan penjelas untuk menafsirkan surat an-Nisa’ ayat 1. Sebab, secara harfiah dalam hadis tersebut tidak ada kata “Hawa” dan “Adam”.
Lalu siapakah Adam itu? Secara bahasa, adam itu berasal dari bahasa Ibrani. Ia berasal dari kata adamus yang berarti tanah. Kata, Annimarie schimmel, seorang sufi Jerman, ia adalah simbol atau protitipe manusia yang berkesadaran. Ia bisa laki-laki dan perempuan. Nah, kalau begitu, bagaimana proses asal muasal kejadian manusia pertama di bumi ini?
Alquran memang tidak secara gamlang menjelaskan proses penciptaan manusia pertama. Alquran hanya menjelaskan bahwa manusia diciptakan dari tanah, kemudian setelah sempurna kejadiannya, Tuhan menghembuskan kepada Ruh ciptaan-Nya.
Artinya; "Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat; Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka, apabila telah Kusempurnakan kejadiaanya dan Kutiupkan kepadanya Roh (ciptaan)Ku; maka hendaklan kamu bersujud kepadanya.(Q,s.Shad;71-72).
Dalam proses penciptaannya, Quran hanya menggambarkannya bahwa manusia diciptakan tanah dengan "kedua tangan-Nya".
Artinya; "Allah berfirman; "Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Kuciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataulah kamu merasa termasuk orang-orang yang lebih tinggi?" (Q.s Shaad;75).
Tapi, Anda jangan membanyangkan bahwa Tuhan menciptakan Adam dengan mengeplek-ngeplek tanah dengan kedua tangan-Nya. Karena, Tuhan bukan itu bukan orang, lho! Dia tak bisa dilihat dengan kasat mata. Menurut Ahmad Chodjim, dalam buku Membangun Surga, Tuhan menciptakan manusia pertama di dunia ini perlu milyaran tahun. Setelah menjadi manusia pertama pun masih perlu waktu jutaan tahun agar menjadi manusia Adam. Untuk itu, Adam sebenarnya bukan manusia penghuni pertama di bumi ini.
Lho kok bisa? Coba kita perhatikan ayat Qu'ran yang berkaitan dengan Adam!
Dalam Quran, kata adam disebut dua kali dalam surat Al’Araf;11 dan Ali Imran;33. Kata adam dalam surat Al’araf bermakna panggilan seluruh manusia, bersifat umum. Sementara, dalam surat Ali imran, kata adam bermakna sebagai nama diri, bersifat khusus. Dari segi penurunan, surat Al’araf lebih dulu turunnya dari surat Ali imran. Ini menujukkan bahwa sebutan Adam pertama kali itu digunakan untuk penyebutan umat manusia seluruhnya. Setelah itu, baru adam sebagai nama diri. “Adam , Nuh, keluarga Imron telah dipilih Tuhan sebagai manusia unggul dimasanya masing-masing. (Qs. 3;33) ” Artinya di masa adam itu sudah banyak orang.
Selain itu, kita juga bisa teliti ayat ketika Tuhan hendak menunjuk Adam sebagai wakil-Nya di bumi ini.
Tuhan meminta para malaikat dan iblis menghadap-Nya. Lalu, Tuhan berfirman,“ Hai kalian semua, ketahuilah bahwa Aku akan menempatkan wakil-Ku di bumi. Para malaikat terkejut. Karena yang menjadi wakil-Nya ternyata manusia. Bukan mereka yang biasa menyucikan dan memuji-Nya. Malaikat pun protes, mengapa manusia yang senang melakukan kerusakan di bumi, saling menumpahkan darah, kok diangkat sebagai wakil-Nya.
Kisah itu bisa kita lihat pada Q.s. Albaqarah;30. “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat;” Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah dimuka bumi.” Mereka berkata; “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman; Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kau ketahui.
Nah, jika saat itu Adam sebagai satu-satunya manusia tidak mungkin malaikat berkata bahwa manusia itu senang melakukan kerusakan di bumi. Juga tidak mungkin malaikat akan berkata bahwa manusia itu saling menumpahkan darah. Seperti saat ini, manusia suka merusak lingkungan hidupnya.Manusia saling berperang.Membunuh sesamanya. Lalu, dari mana malaikat itu tahu? Pasti bukan meramal. Protes mereka pasti berdasarkan fakta, bahwa saat itu sudah ada kehidupan manusia yang suka melakukan kerusakan. Tapi, malaikat tidak tahu jika ada manusia yang layak menjadi wakil Tuhan. Malaikat melakukan generalisai. Menganggap semua manusia itu sama. Nyatanya ada satu orang yang layak dipilih sebagai Khalifah-Nya. Orang inilah yang kelak disebut “Adam”. Manusia yang beradab dan berbudaya. Manusia yang dipilih Tuhan sebagai khalifah pertama

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar