Sobat Sobat SenjuJasrizal.blogspot.com yang baik hati,,, TERIMA KASIH TELAH MENGUNJUNGI BLOG INI... mohon maaf atas segala kekurangan, mudah-mudahan bermanfaat dan dapat sobat2ku mengambil hikmah didalamnya....^_^

Selasa, 04 September 2012

Politikus Elit Panggung Sandiwara



            Imperium perpolitikan Indonesia sekarang ini dipenuhi oleh muka-muka yang sungguh tidak asing bagi setiap masyarakat yang memiliki televisi dirumahnya, namun bukan berarti mereka yang tidak mempunyai televisi dirumahnya lepas dari wajah-wajah yang sungguh familiar tersebut, dikoran maupun majalah selalu menonjolkan wajah-wajah ayu dan ganteng mereka. Stasiun televisi swasta di Indonesia yang selalu melahirkan wajah-wajah baru untuk dikenalkan ke masyarakat lewat tayangan sinetron yang menjadi trend utama pada saat sekarang ini sampailah kepada berbagai iklan produk yang dikomersilkan kepada masyarakat membuat popularitas mereka makin tinggi sehingga ini menjadi nilai tambahan bagi mereka untuk menarik suara masyarakat yang mayoritas telah mengidolakan mereka untuk membawa mereka dalam imperium perpolitikan Indonesia. Politik adalah pendapatan sampingan yang dapat mengantarkan mereka pada level kejayaan yang lebih tinggi, politik adalah sebuah alat yang dapat menaikkan lagi popularitas diri yang mulai redup dan politik di jadikan tempat reuni antar golongan atas dan golongan elit
            Kenderaan politik ditanah air ini seolah bangga dengan kader-kader mereka dari kalangan artis tersebut, demi mencapai kepentingan politik dan menaikkan popularitas partai politik, parpol bahka mengusung mereka menjadi pemimpin kepala daerah ataupun wakil kepala daerah, parpol tidak hanya memberikan kesempatan menjadi kendraan saat mencapai kursi wakil rakyat dan mungkin suatu saat kita melihat kalau salah satu dari mereka menjadi pemimpin Indonesia ini sehingga mereka sangat senang jika para politikus artis tersebut bergabung dengan kenderaan politik mereka yang dalam hal ini dapat menarik simpati masyarakat yang telah mengidolakan artisnya tersebut sehingga sampai dalam memberikan suara pada saat pemilihan dengan tanpa ragu dan pikir panjang masyarakat dengan senang hati menjatuhkan pilihan kepada mereka yang mengantarkan para artis dalam imperium perpolitikan Indonesia. Masyarakat kita ditipu oleh muslihat dan janji-janji palsu penghias kata-kata dan kalimat manis yang keluar dari mulut mereka atau masyarakat kita yang terlalu bodoh untuk menentuka siapa yang layak dipilih dan mewakili suara kita? Mau dibawa kemana negara Indonesia ini dan mau dijadikan seperti apa masyarakat miskin di Indonesia ini?
            Imperium perpolitikan kita hancur, oleh politikus-politikus busuk yang menghiasi perpolitikan di negara ini baik itu politikus dari kalangan masyarakat umum yang telah pakar dalam studi politik, mengerti politik dari akar sampai ke daun-daunnya karena pembelajaran sampai S3 di luar negeri serta dari kalangan yang tidak mengerti politik dan yang awam mengenai dunia politik, yang pentik maju meramaikan perpolitikan di Indonesia ini. Kasus korupsi, kasus suap yang melibatkan banyak pihak menjadikan negara Indonesia ini diambang keterpurukan, negara lain yang di kenali dunia internasional lewat prestasi yang diukir berbeda jauh denga Indonesia yang populer di dunia internasional lewat banyak hal negatif yang melanda di seluruh pelosok negeri, potret kemiskinan dan kesengsaraan, potret tenaga kerja wanita di berbagai negara, potret kekerasan dan teror yang membawa-bawa nama Islam sampai kepada potret yang sangat familiar dan menjamur yakni kasus korupsi yang menjadikan negara kita selalu di pandang negatif oleh banyak pihak. Indonesia tidak bisa bangkit seperti zaman Soekarno yang sangat disegani dunia internasional bahkan Amerika Serikat, Indonesia tidak menjadi negara kuat di asia tenggara seperti era Soeharto yang membuat negara-negara asia tenggara tidak berani memandang negara ini dengan sebelah mata, terlepas dari penyelewengan politik yang di buatnya. Indonesia sekarang butuh pemimpin tegas, karismatik dan berani bertindak seperti era Soekarno serta pemimpin kuat yang di segani dan ditakuti seperti era Soeharto. Korupsi, kolusi dan nepotisme yang seakan tidak pernah habis bahkan menjadi besar dan berkembang biak dengan diberi pupuk yang menjajikan, apakah kekayaan mereka masih belum cukup untuk dihabiskan dua atau tiga generasi berikutnya, apakah mereka berniat untuk mewujudkan mimpi yang mengatakan kekayaan yang tidak akan pernah habis sampai tujuh keturunan berikutnya,? Apakah kekuasaan mereka belum cukup kuat dan besar? Atau apakah popularitas mereka yang belum cukup dikenali sampai pelosok hutan dan daerah tertinggal? dan yang paling diragukan sekali, apakah niat mereka untuk terjun ke imperium perpolitikan itu?
            Kekayaan yang kaya bertambah kaya dan yang miskin bertambah miskin, masyarakat Indonesia yang dirugikan, mereka yang seharusnya menjadi wakil masyarakat yakni wakil dalam menyampaikan aspirasi, wakil dalam menyampaikan keluh kesah, susah sedih dan wakil yang seharusnya mengerti apa maunya masyarakat, apa kesengsaraan masyarakat, apakah mereka tahu? Jawabannya tentu TIDAK, mereka tidak pernah bersusah payah membanting tulang peras keringat mencari nafkah, yang mereka tahu hanyalah duduk di kursi empuk dan ruangan berAC sambil mendengarkan ocehan-ocehan seakan berada diwarung kopi sambil menikmati makanan kotak yang pada akhirnya masyarakat tidak terwakili sedikitpun, masyarakat tetap hidup susah dengan pendapatan Rp 5000 perhari bahkan tidak sama sekali sedangkan mereka puluhan juta bahkan masih kurang dan menerima pemberian perusahan swasta yang memiliki kepentingan ekonomi terhadap mereka sampai milyaran rupiah. Hal ini terjadi kepada sebagian besar politikus di Indonesia dari semua kalangan, politik di Indonesia benar benar kejam akibat ulah politikusnya, baik teman dan musuh sama saja yang penting adalah kepentingan kelompok dan kepentingan individu, mereka berlomba lomba mengumpulkan uang sebanyak mungkin untuk jaminan hari tua, mereka tidak memikirkan masyarakat yang semakin sengsara, mobil mewah, rumah bertingkat layaknya istana seolah masih membuat mereka merasa miskin yang jadi pertanyaanya kapan mereka merasa kaya, kaya akan harta, kaya akan hati dan kaya akan ketenangan dan jawabnya sungguh mudah ditebak, mereka baru merasakan itu semua jika seluruh yang ada dalam negara ini menjadi aset kepemilikan mereka, kekayaan mereka untuk generasi keluarga mereka yang meneruskan prinsip terdahulunya sedangkan mereka pergi dengan 3 lapis atau 7 lapis kain putih di badan serta bagi yang lainnya dengan satu setelan jas lengkap dengan dasi kupu-kupunya....
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar