Sobat Sobat SenjuJasrizal.blogspot.com yang baik hati,,, TERIMA KASIH TELAH MENGUNJUNGI BLOG INI... mohon maaf atas segala kekurangan, mudah-mudahan bermanfaat dan dapat sobat2ku mengambil hikmah didalamnya....^_^

Selasa, 10 Juli 2012

Ekonomi Politik Internasiona, Pandangan Teori


Dalam perkembangannya, Ekonomi Politik Internasional banyak mengalami perubahan dinamika. Dan dalam perubahan dinamikanya tersebut berkaitan erat dengan dunia secara  global, baik dalam aspek ekonomi, politik, dan sosial. Robert Gilpin, memberikan definisi standar mengenai ekonomi politik internasional, yaitu hubungan paralel dan saling menguntungkan antara “negara” sebagai politik dan “pasar” sebagai ekonomi  dalam dunia modern (Gilpin, 1987). Ekonomi Politik Internasional merupakan studi yang berkaitan erat dengan pasar internasional termasuk segala aktor yang terlibat didalamnya. Pasar merupakan integrasi fungsional, hubungan kontraktual, saling ketergantungan yang luas antara pembeli dan penjual, struktur ekonomi yang terjadi dimana hasil akhir ditentukan oleh harga. Studi tentang Ekonomi Politik Internasional menerangi alasan mengapa perubahan terjadi dalam distribusi kekayaan dan kekuasaan dalam sebuah negara. Dalam pasar terjadi dinamika yang dipengaruhi oleh keadaan politik antar aktor dan kebudayaan masyarakat. Gilphin mengungkapkan bahwa sejarah ekonomi dan politik yang terjadi dunia internasional ini dipengaruhi kuat oleh kondisi pasar dan keadaan lingkungan masyarakatnya (Gilphin, 1987).
Seiring dengan perkembangan dunia, dinamika politik dan ekonomi dalam pasar juga terus berubah menjadi semakin kompleks. Tiga teori dasar utama Ekonomi Politik Internasional, liberalisme,
merkantilisme, dan marxisme dianggap kurang mampu mengmbangi perubahan dinamika dalam Ekonomi Politik Internasional. Dan kemudian dari hal tersebut mengawali lahirnya pemikiran-pemikiran baru yang berdasar dari tiga teori ekonomi politik internasional tersebut. Gilphin juga mengungkapkan dalam bukunya, bahwa terdapat tiga pendekatan kontemporer, adalah seperti  dual economy, Modern World System (MWS), dan hegemonic stability. Dimana ketiganya berupaya menjelaskan mengenai dinamika perubahan-perubahan yang telah terjadi dalam ekonomi politik internasional (Gilphin, 1987).
Yang pertama adalah teori dual economy, merupakan sebuah teori yang menjadi turunan dari pemikiran liberal. Robert Gilpin mendefinisikan liberalisme sebagai suatu doktrin atas seperangkat prinsip-prinsip untuk mengatur suatu ekonomi pasar sehingga tercapai yang maksimal, pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan individu. Semua bentuk ekonomi liberal percaya terhadap mekanisme harga pasar sebagai sarana yang paling tepat untuk mengorganisasikan hubungan ekonomi internasional maupundalam kegiatan-kegiatan ekonomi politik. Dual economy itu sendiri telah membagi ekonomi menjadi dua tipe. Tipe yang pertama ialah modern dan tradisional, dalam tipe ini secara realistis telah dialami langsung oleh tiap individu. Bahwa ekonomi terus berkembang seiring dengan berjalannya waktu, dari ekonomi tradisional kemudian terus berkembang menjadi kegiatan ekonomi modern. Yang pada mulanya terfokus pada unsur alam terus berubah pada kemajuan teknologi abad saat ini. Semua perubahan tersebut tentu dipengaruhi oleh modernisasi yang merata baik dalam kondisi sosial, ekonomi dan politik. Jelas terlihat dalam proses perubahan tersebut kemajuan dalam bidang teknologi dan ilmu pengetahuan memiliki pengaruh paling penting dalam dinamika perekonomian dunia yang terus berubah hingga saat ini. Dalam pendekatan ini juga menjelaskan dampak globalisasi yang membawa kemajuan teknologi sehingga membuat jarak kian tak berarti. Dalam pemikiran liberal, aktor utama dalam pasar adalah individu yang tujuan utamanya untuk meraih keuntungan sebanyak-banyaknya melalui perluasan wilayah pasar hingga ke belahan dunia lain.

Teori berikutnya adalah teori Modern World System (MWS). Dalam teori ini berbasis dari pandangan teori Marxis, dimana dalam teori ini berfokus pada kelas sosial antar negara. Teori yang kedua ini membagi negara-negara di dunia ke dalam kelas-kelas, antara lain core dan periphery. Teori MWS ini menekankan kajian pada analisa asal, struktur, dan fungsi dari system (Gilpin, 1987). Akan tetapi berbeda pada apa yang diungkapkan oleh immanuel Wallerstein, teori ini menganggap bahwa kelas-kelas antar negara merupakan suatu sistem yang saling bergantung satu sama lain dan tidak dipisahkan. Hal tersebut berkitan dengan pembagian kerja dalam dunia internasional. Karena kemajuan atau keadaan yang terjadi di negara core akan juga mempengaruhi kondisi yang terjadi di negara periphery. (Gilphin 1987).

Teori yang ketiga, didasari dari pemikiran merkantilis. Studi EPI menjadi sangat populer karena, sistem merkantilisme mengajarkan perlunya penyatuan aktivitas ekonomi dan aktivitas politik, bahkan menurut penganutaliran ini setiap negara harus mengutamakan terlebih dahulu kepentingan nasionalnya. Dalam teori ini melibatkan peran negara sebagai aktor yang mengatur dan mengawasi perdagangan internasional yang semakin bebas terbawa arus globalisasi. Dalam teori ini manyatakan bahwa tiap kebebasan perlu diawasi, karena kebebasan yang tanpa aturan akan membawa dampak negatif dan kejatuhan dari sistem liberal yang telah dianut tersebut. Karena hal tersebut, teori ini menyebutkan bahwa dibutuhkan negara hagemon yang dapat mengatur stabilitas perekonomian dan politik internasional yang bertujuan untuk mengurangi terjadinya perselisihan dan meminimalisir oknum-oknum seperti free rider. Bagi negara-negara yang menganut aliran merkantilisme, perdagangan internaisonal merupakan sarana untuk mencapai kepentingan nasional dan untuk menumpuk kekayaan negara, agar negara itu menjadi kuat oleh karena itu, distribusi atau struktur kekuatan dalam politik internasional akan menentukan sistem perdagangan ekonomi internasional. Setiap negara akan berusaha mendominasi politik internasional dengan motif untuk memperoleh akses-akses dalam perdagangan internasional maka suatu negara akan dapat memperoleh kekayaan. Hegemon atau pemimpin mempunyai tanggung jawab untuk menjamin syarat collective goods dalam sistem perdagangan bebas dan kestabilan valuta (Gilpin, 1987).  Penentuan hegemon dapat dilakukan dengan menunjuk negara kuat dan sper power yang menguasai hampir seluruh aspek sosial, politik, dan ekonomi. Dan kemudian dari alasan-alasan tersebut, Ekonomi Politik Internasional melahirkan suatu bentuk struktur baru dalam dunia internasional. Yaitu melalui terbentuknya sebuah rezim moneter, International Monetary Fund (IMF) dan bank dunia. Keduanya memiliki tugas dalam menjaga kestabilan perekonomian dan masalah keuangan dunia.

Dapat disimpulkan bahwa, Dari pembahasan mengenai ekonomi politik internasional, dapat disimpulkan bahwa ekonomi politik merupakan hubungan paralel dan saling menguntungkan antara “negara” (politik) dan “pasar” (ekonomi)  dalam dunia modern. Dan dalam ekonomi politik internasional memiliki tiga teori dasar yaitu liberalisme, merkantilisme, dan marxisme. Kemudian, seiring berkembangnya jaman tiga teori tersebut dianggap kurang mampu mengmbangi perubahan dinamika dalam Ekonomi Politik Internasional. Berdasarkan hal tersebut lalu dalam ekonomi politik internasional melahirkan pemikiran-pemikiran baru seperti, dual economy, Modern World System (MWS), dan hegemonic stability.


Referensi:

Gilpin, Robert. 1987. “The Dynamics of International Political Economy”, dalam the Political Economy of International Relations, Princeton: Princeton University Press, pp. 65-117
Lairson, Thomas D. and D. Skidmore. 1993. “The Political Economy of American Hegemony: 1938-1973”, dalam International Political Economy: the Struggle for Power and Wealth, Orlando: Harcourt Brace College Publishers, pp. 63-94

Tidak ada komentar:

Posting Komentar